Kemarau Basah, Petani Tembakau Jombang Terjepit Harga dan Cuaca

Berita Daerah

Jombang,JATIM bhayangkarapos.com — Harapan para petani tembakau di Kabupaten Jombang untuk meraih keuntungan pada musim panen tahun ini seolah pupus di tengah cuaca yang tak menentu dan harga jual yang jatuh bebas. Apa yang seharusnya menjadi puncak kerja keras berbulan-bulan kini berubah menjadi musim penuh kecewa.

Musim kemarau 2025 yang basah akibat anomali iklim membuat hasil panen tembakau anjlok tajam. Hujan turun di saat daun tembakau seharusnya menguning dan mengering di bawah terik matahari. Akibatnya, mutu daun menurun, proses pengeringan melambat, dan nilai jual pun terpuruk.

 

Hujan di Tengah Panen

Sumarto (58), petani tembakau asal Dusun Banjarmlati, Desa Jatibanjar, Kecamatan Ploso, hanya bisa pasrah melihat hamparan tembakaunya menggantung setengah kering di rumah pengeringan.

“Dari awal tanam hujan terus, untungnya tidak sampai banjir. Tapi panasnya jarang, jadinya keringnya lama,” ujarnya lirih, Senin (6/10/2025).

Ia mengaku, tahun ini adalah masa tanam terberat selama lebih dari dua dekade ia menanam tembakau. Dari lahan seluas 300 ru, tahun lalu ia masih bisa membawa pulang sekitar Rp50 juta hasil panen. Namun tahun ini, dengan harga dan mutu yang anjlok, pendapatannya tak sampai separuh.

“Sekarang harga tembakau bagus paling Rp40 ribu per kilo, kalau yang sedang seperti punya saya cuma sekitar Rp22 ribu. Tahun lalu bisa Rp38 ribu,” katanya.

 

Proses Kering yang Tak Kunjung Selesai

Cuaca mendung berkepanjangan menjadi momok baru. Dalam kondisi normal, petani tembakau di wilayah utara Jombang—terutama Ploso, Kabuh, dan Ngusikan—mengandalkan metode janturan, yakni menjemur daun tembakau utuh yang digantung hingga benar-benar kering. Biasanya, proses ini memakan waktu sepuluh hari. Namun tahun ini, dua minggu pun belum tentu kering sempurna.

“Kalau panasnya tidak terik, bisa dua minggu lebih. Kadang malah jamur, daun flek-flek, warnanya kusam. Harganya langsung turun,” keluh Sumarto.

 

Data Suram dari Dinas Pertanian

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Jombang, melalui laporan resmi, mencatat penurunan drastis pada tingkat produksi tembakau tahun ini. Dari total lahan tanam di Kabupaten Jombang, hanya sekitar 62 persen yang berhasil dipanen dengan mutu layak jual.

Kecamatan Ploso menjadi daerah dengan tingkat kegagalan tertinggi: dari 1.347 hektare lahan, hanya 336 hektare atau seperempatnya yang berhasil panen.

Sementara itu, Kecamatan Kabuh, yang memiliki lahan terluas, hanya mampu memanen 40 persen.

Sedangkan Ngusikan dan Kudu masih relatif stabil dengan tingkat panen masing-masing 83 persen dan 82 persen.

“Cuaca basah di masa panen membuat banyak tembakau gagal kering sempurna. Kami terus mendampingi petani agar kerugiannya tidak terlalu besar,” ujar salah satu pejabat bidang tanaman perkebunan.

 

Harga Jatuh, Biaya Produksi Melonjak

Di sisi lain, biaya produksi justru meningkat. Harga pupuk, pestisida, hingga tenaga kerja naik sejak awal tahun, sementara hasil jual tembakau justru turun lebih dari 30 persen.

Kondisi ini membuat banyak petani terjebak pada utang modal, terutama mereka yang bergantung pada tengkulak untuk biaya tanam.

“Kalau kayak begini terus, banyak yang kapok nanam tahun depan,” kata Jumari (46), petani di Desa Sumberagung, Plandaan. “Modalnya habis buat bibit dan pupuk, jualnya nggak nutup ongkos.” 

 

Dampak Ekonomi Menjalar ke Hulu-Hilir

Penurunan produksi dan harga tembakau tak hanya memukul petani. Industri pengolahan tembakau lokal dan pedagang daun kering pun terkena imbas. Pasokan bahan baku untuk pabrik rokok skala kecil di Jombang dan sekitarnya menyusut, sementara mutu bahan yang masuk menurun drastis.

Menurut pengamat pertanian dari Universitas Brawijaya, dr. Ir. Taufiq Arif, M.Agr, fenomena “kemarau basah” seperti ini adalah efek nyata perubahan iklim global.

“Polanya makin tidak bisa diprediksi. Musim kemarau tapi curah hujan masih tinggi. Sektor pertanian yang bergantung pada cuaca terbuka seperti tembakau jelas paling rentan,” ujarnya.

Ia menambahkan, perlu adanya inovasi sistem pengeringan berbasis energi alternatif agar petani tidak sepenuhnya bergantung pada panas matahari. “Di beberapa daerah, pengeringan tembakau mulai beralih ke sistem rumah oven dengan bahan bakar biomassa. Itu bisa jadi solusi jangka panjang,” tambahnya.

 

Petani di Persimpangan

Kini, di tengah tumpukan daun tembakau yang belum kering sempurna, banyak petani mulai berpikir ulang: apakah tahun depan masih akan menanam tembakau, atau beralih ke komoditas lain seperti jagung dan cabai.

Namun, bagi sebagian besar petani di Ploso dan sekitarnya, tembakau bukan sekadar tanaman ekonomi—ia adalah tradisi turun-temurun.

“Sudah dari bapak saya, kakek saya, semuanya nanam tembakau,” ujar Sumarto pelan. “Cuma ya kalau terus begini, kita bisa habis sebelum tembakaunya kering.” 

 

Tembakau Jombang di Persimpangan Nasib

Kisah di Jombang menjadi potret kecil dari tantangan besar yang kini dihadapi petani tembakau di berbagai daerah Jawa Timur—dari Bojonegoro hingga Pamekasan.

Cuaca ekstrem dan fluktuasi harga menggerus semangat petani yang selama ini menjadi tulang punggung industri hasil tembakau nasional.

Jika tak ada intervensi serius—baik melalui subsidi, teknologi pengeringan, maupun regulasi tata niaga—maka bukan tidak mungkin, beberapa tahun lagi, daun emas dari Ploso hanya tinggal cerita di ladang yang semakin sepi.

 

( Pers R. Pudji Sugiarto St  )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *