Bhayangkarapos.com
JAKARTA – Anggota DPR RI sekaligus Ketua MPR RI ke-15 dan Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia, Bambang Soesatyo (Bamsoet), menerima perwakilan Sojunghan Medicare dari Korea Selatan di Jakarta, Rabu (12/8/2026).
Pertemuan ini membahas perkembangan teknologi pemeriksaan kesehatan, khususnya skrining aktivitas sel Natural Killer (NK) dan pengembangan layanan kesehatan berbasis imunologi. Bamsoet berharap pertemuan ini dapat membuka peluang pertukaran pengetahuan dan teknologi kesehatan antara Indonesia dan Korea Selatan.
“Perkembangan teknologi kesehatan bergerak sangat cepat. Indonesia perlu membuka peluang kerja sama dengan pusat-pusat kesehatan dan penelitian di negara yang memiliki pengalaman maju, termasuk Korea Selatan. Pemeriksaan kesehatan ke depan harus semakin mengarah pada deteksi dini, pemetaan kondisi tubuh secara lebih menyeluruh, serta pemanfaatan teknologi yang dapat membantu dokter mengambil keputusan medis secara lebih tepat,” ujar Bamsoet.
Perwakilan Sojunghan Medicare yang hadir antara lain dr. Michael Jang, Edward Park, Lee Jae Woong dan Lee Jun Sik.
Ketua DPR RI ke-20 ini menjelaskan salah satu layanan yang diperkenalkan adalah Natural Killer Mix (NKM). NKM merupakan pendekatan berbasis sel limfosit autologus yang diambil dari darah pasien, kemudian diproses dan diaktivasi di luar tubuh sebelum dimasukkan kembali melalui infus. Tujuannya untuk meningkatkan jumlah serta proporsi sel NK sebagai bagian dari respons imun.
“Indonesia perlu bersikap terbuka terhadap inovasi seperti NKM, tetapi keterbukaan harus berjalan bersama kehati-hatian ilmiah. Setiap terapi berbasis sel yang akan diterapkan kepada masyarakat Indonesia harus melalui proses evaluasi dan regulasi yang ketat, sehingga keselamatan pasien tetap menjadi prioritas utama. Kita jangan sampai mengejar teknologi kesehatan dengan mengorbankan standar medis,” tegas Bamsoet.
Wakil Ketua Umum Partai Golkar ini juga menilai hubungan Indonesia-Korea Selatan saat ini sangat baik untuk memperluas kerja sama kesehatan. Pada April 2026, kedua negara memperkuat kemitraan strategis melalui 10 nota kesepahaman yang mencakup sektor prioritas termasuk kesehatan dan kecerdasan artifisial untuk kesehatan dasar.
“Kerja sama Indonesia-Korea jangan berhenti pada investasi dan perdagangan. Kesehatan harus menjadi salah satu sektor strategis yang terus diperkuat. Kita bisa membangun kolaborasi dalam pemeriksaan kesehatan, riset, pendidikan tenaga medis, bioteknologi, pengembangan laboratorium, digital health, sampai medical tourism. Kalau dilakukan secara serius, Indonesia dapat menjadi pasar sekaligus mitra pengembangan teknologi kesehatan di kawasan Asia,” pungkas Bamsoet.
