“seratus hari menyulam harapan:dari pendopo ke ladang warga”

Berita

Jember,bhayangkarapos.com Di kabupaten Jember,janji politik seiring lebih awet dari pada jalan aspalnya.dari pilkada ke pilkada,warga mendengar janji pupuk lancar,sekolah gratis,dan jalan desa mulus.tapi realitas di lapangan kerap membuktikan sebaliknya”petani tetap antre,Murid masih belajar di ruang reyot,dan ban montor terus selip di kubangan.lalu datanglah pasangan Muhammad gus fawait dan Djoko Susanto,membawah jargon”kerja nyata,Jember hebat.”mereka di Lantik dengan ekspektasi tinggi,bukan semata karena besar,tapi karena publik mulai lelah dengan pemimpin yang gemar selfie tapi pelit solusi.seratus hari pertama mereka menjadi semacam gladi resik sejarah:apakah Jember sedang menuju bapak baru pemerintahan yang berpihak,atau sekedar ganti aktor dalam panggung drama lama?
Selama rentang 100 hari sejak pelantikan,bupati Muhammad fawait dan wakil bupati Djoko Susanto meluncurkan berbagai progam yang menyasar sektor kesehatan,pendidikan,ekonomi,dan infrastruktur langkah langkah ini mendapat respons positif dari masyarakat.tak sampai empat bulan memegang kendali,duet baru ini memulai sederet langkah awal yang di gadang gadang sebagai”tanda jaman baru.”dari membenahi pupuk hingga merapikan birokrasi digital,mereka tampak ingin berlari cepat.pasangan ini juga di kenal dengan gaya kepemimpinan”sambang rakyat”,turun ke desa,tidak hanya seremonial,api untuk mendengar langsung keluhan warga.ada 4 bidang yang menjadi prioritas di 100 hari kerja ini,yaitu,

1.bidang kesehatan
Menuju cakupan kesehatan Universal salah satu gebrakan awal adalah peluncuran progam Universal Health Coverage(UHC)prioritas,hasil kerja sama dengan BPJS kesehatan.progam ini memastikan seluruh warga Jember yang terdaftar dalam data kependudukan dapat mengakses layanan pendaftaran dan pembiayaan melalui dana PBI daerah

2.bidang pendidikan:beasiswa dan sekolah rakyat
Di sektor pendidikan,pemkab Jember menyalurkan 20.000 beasiswa yang mencakup biaya kuliah dan biaya hidup bagi mahasiswa dari keluarga kurang mampu,selain itu,progam sekolah rakyat di luncurkan untuk meningkatkan akses pendidikan,terutama bagi masyarakat di daerah terpencil

3.bidang ekonomi dan infrastruktur
Dukung untuk petani dan pekerja untuk mendukung sektor pertanian,pemkab membentuk tim verifikator guna memastikan distribusi pupuk subsidi tempat sasaran.kopeeasi merah putih dibentuk untuk menggeliatkan ekonomi pedesaan dan menjadi mitra Bulog dalam penyerapan gabah.di bidang infrastruktur,perbaikan jalan rusak menjadi prioritas.anggaran yang sebelumnya dialokasikan untuk pembelian mobil dinas di alihkan untuk memperbaiki jalan.

4.bidang pelayanan publik”inovasi digital dan aksesibilitas.
Progam wadul gusse di luncurkan sebagai platform pengaduan masyarakat yang dpat di akses 24 jam.sejak di luncurkan pada 14 maret 2025.progam ini telah menerima 1.313 aduan.dengan 711 di antaranya telah di tindak lanjuti.selain itu,pemkab Jember membebaskan biaya retribusi parkir di pinggir jalan hingga Agustus 2025 sebagai upaya meringankan beban masyarakat.

Sebuah survei dari The republic mencatat tingkat kepuasan publik terhadap kinerja fawait dan Djoko mencapai 82,8persen.dalam kategori pengentasan kemiskinan,angka kepuasan mencapai 83,1persen.miski demikian,tantangan masih terbentang;distribusi pupuk yang merata.peningkatan kualitas pendidikan,dan pembenahan infrastruktur di daerah pinggiran adalah pekerjaan rumah yang belum selesai.

Seratus hari memang bukan ukuran paripurna,tapi cukup untuk .nebak arah angin.jika fawait dan Djoko benar benar ingin memahat sejarah.bukan sekedar lewat baliho dan slogan.maka kerja besar mereka dapat di mulai dengan menundukkan ego birokrasi,menyambung suara rakyat ke sistem,dan menjadikan kekuasaan sebagai alat bukan panggung.karna rakyat Jember tak butuh pemimpin yang sering tampil,tapi yang benar benar hadir.dan dalam hal ini,fawait djoko telah menunjukan niat baik yang di terjemahkan dalam langkah nyata.namun keberlanjutan dan kedalaman langkah nyata melalui progam progam kerja akan menjadi ujian sesungguhnya.seratus hari ini cukup untuk membaca arah pembangunan dan saat ini,arah itu mulai terbaca.tantangannya kini adalah”Apakah arah itu bisa di tempuh dengan kecepatan yang konsisten dan kedalaman yang menyentuh akar masalah?jika tidak,semua bisa saja berakhir seperti pesta kembang api:”meriah di awal,padam sebelum fajar.
Penulis…Andy suprapto.S.Sos.M.Si.

Reporter.slamet raharjo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *