Gunungsitoli – bhayangkarapos.com
Ada pepatah lama yang mengatakan, “Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih.” Sesungguhnya, musibah dan kesialan dalam hidup ini sering kali datang tanpa diduga, tanpa kita tahu kapan dan bagaimana caranya.
Begitulah kira-kira apa yang terjadi saat melanda bencana kebakaran hebat di Kota Gunungsitoli pada hari Kamis (9/4/2026). Sebagai umat beragama, kita merasa sangat prihatin dan turut berduka atas musibah yang menimpa warga. Ratusan juta bahkan miliaran rupiah harta benda, rumah, dan toko hangus terbakar dalam sekejap mata. Rasa sedih dan pilu yang mendalam pasti dirasakan oleh para korban yang kehilangan segalanya.
Namun, di balik kesedihan itu, ada banyak pelajaran berharga dan hikmah yang patut kita renungkan bersama demi kebaikan di masa depan:
1. Kewaspadaan adalah Kunci
Kita semua wajib lebih waspada dan berhati-hati terhadap potensi kebakaran. Mulailah dari diri sendiri dengan memeriksa instalasi listrik, kompor gas, dan barang-barang mudah terbakar di lingkungan rumah masing-masing. Pencegahan jauh lebih baik daripada mengobati.
2. Disiplin Saat Keadaan Darurat
Jika kebakaran terjadi, segera hubungi Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar). Namun, sebagai masyarakat, kita harus memberi ruang dan jalan yang leluasa bagi mobil Damkar untuk bertugas. Jangan sampai kehadiran kita justru menghambat akses, apalagi hanya menjadi penonton atau “penyiar dadakan” yang mengabaikan keselamatan.
3. Hargai Pengorbanan Petugas
Sebagai manusia, kita sering kali cepat menyalahkan kinerja petugas. Padahal, mereka bekerja sepenuh hati, bahkan mempertaruhkan nyawa di tengah kobaran api. Semangat “Pantang Pulang Sebelum Padam” sudah tertanam kuat dalam jiwa mereka. Mari kita hargai keringat dan air mata mereka.
4. Pahami Teknis dan Batas Kemampuan
Petugas bekerja sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP). Misalnya, penggunaan air harus air bersih sesuai ketentuan teknis, tidak boleh sembarangan menggunakan air laut karena bisa merusak mesin. Perlu diketahui, kapasitas tangki air yang mereka bawa bisa habis hanya dalam waktu 5 hingga 10 menit saat disemprotkan maksimal, sehingga pengisian ulang memang membutuhkan waktu. Jangan salahkan mereka atas keterbatasan teknis ini.
5. Keterbatasan Sarana dan Prasarana
Kita perlu memahami kondisi riil di lapangan. Ketersediaan armada Damkar dan mobil tangki di Kota Gunungsitoli masih sangat terbatas dan belum memadai untuk menutupi seluruh wilayah. Ini adalah fakta yang harus kita akui bersama.
6. Infrastruktur Penunjang
Belum tersedianya bak penampungan air yang memadai dan strategis di dekat pos Damkar juga menjadi kendala utama, sehingga waktu pengisian ulang air menjadi lebih lama.
7. Tanggung Jawab Pengambil Kebicakan
Kepada para pemimpin dan pengambil kebijakan, musibah ini menjadi tamparan keras agar segera bertindak. Diperlukan penambahan armada pemadam kebakaran dan mobil tangki, setidaknya satu unit yang siap operasional di setiap kecamatan. Pembangunan bak penampungan air yang strategis juga menjadi kebutuhan mendesak.
8. Bangun Sistem Kesiapsiagaan Mandiri
Pemerintah Desa, Kelurahan, dan Kecamatan sebaiknya mengaktifkan kembali atau membentuk relawan pemadam kebakaran tingkat lokal. Kesiapsiagaan masyarakat di tingkat akar rumput sangat vital untuk penanganan awal sebelum bantuan tiba.
Semoga kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua, khususnya bagi para pemangku kebijakan untuk lebih serius memperhatikan fasilitas penanggulangan bencana. Percuma masyarakat berteriak dan berbicara panjang lebar, jika kebijakan hanya dianggap angin lalu.
Untuk saudara-saudara kita yang tertimpa musibah, semoga diberikan ketabahan hati. Tuhan Maha Mengetahui dan Maha Menolong. Dan untuk para petugas Damkar, tetaplah semangat bekerja tanpa lelah, karena pahala dan upah terbaik pasti ada di sisi-Nya. (AH)
